Tampilkan postingan dengan label SUP - WD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SUP - WD. Tampilkan semua postingan

0 SUP: SBY-BOEDIONO SEGERA MENYELESAIKAN MASALAH PAPUA!

(AMP, FNMP, PERWAKILAN MAHASISWA DARI: MEDAN, ACEH, SUMATRA BARAT, MADURA, KALIMANTAN TIMUR, KALIMANTAN BARAT, JAWA TENGAH, D.I.Y., JAMBI, TIMOR LESTE, SULAWESI BARAT, AMBON, dan PAPUA. )



(Massa aksi Bundaran UGM)

Sonny Dogopia – SUP, Senin (14-11/2011), Pukul 19:00 – 22:20-an WIT , kembali long march dari Asrama Aceh ke Bundaran UGM, aksi seribu lilin. Dan berakhir tanpa keributan.

SUP menuntut: SBY-Boediono SEGERA Menyelesaikan Masalah Papua dan Tutup Perusahan-perusahan besar di Papua, seperti; PT. Freeport McMoran, Petrochina, dan MIFE.




(Bundaran UGM)

KRONOLOGIS
Massa aksi Star dari; Sekertariat Mahasiswa Papua, Tempat masing-masing, dan Sekertariat Organ-organ Pro-Rakyat.

Titik Kumpul di Asrama Aceh, Kota Baru-Yogyakarta.

Long March ke Bundaran UGM.

Massa Aksi long march bersamaan dengan seruan-seruan kebenaran.

Orasi pun perwakilan dari masing-masing organ.


(Tarian Ala Papua)

Orasi demi orasi pun disuarakan. Dan dipertengahan, Bundaran UGM, ditambahkan Tarian ala Papua, serta Nyanyian Tanah Papua.

(Nyanyian Tanah Papua)

Titik akhir di Bundaran UGM dan massa aksi long march pulang ke Asrama Aceh.

Aksi Turun Jalan, SUP mengakhirinya dengan membacakan Pernyataan Sikap. Pernyataan Sikap dibacakan kordinator umum, Roy Karoba, AMP-Yogyakarta.


LATAR BELAKANG
Sejak 19 Desember 1961 – 18 hari setelah deklarasi kemerdekaan Papua Barat, dengan: Lagu hai Tanah ku Papua, Burung Mambruk sebagai Lambang Negara, Bintang Kejora sebagai Bendera Negara, Sorong sampai Samari sebagai wilayah Negara Papua Barat, dan dibentuk pemerintahan 70 orang terdidik Papua Barat yang disebut Komite Nasional Papua (KNP) – Indonesia telah masuk secara ilegal.

Tujuan Indonesia masuk secara ilegal adalah menggagalkan berdirinya Negara Papua Barat. Dan pada saat yang bersamaan, Indonesia membunuh semua warga sipil di Papua Barat yang dianggap Pro terhadap Kemerdekaan, juga terhadap Belanda (Sumber: Don Flassy, 2003).

Indonesia masuk secara ilegal, warga sipil pro kemerdekaan di bunuh, dan berhasil mengusir Belanda. Saat itu Duta besar AS di PBB, Elswort Bunker , mengajukan satu proposal penyelesaian masalah Papua Barat (Sumber: Jhon Saltford, 2006). Yang diterjemahkan dalam sebuah perjanjian, disebut dengan “New York Agreement 1962.”

Indonesia kembali dengan kekuatan Militer melakukan Operasi Masal, teror, Intimidasi, dan pengkondisian Wilayah Papua Barat.

Masalah mendasar Papua Barat adalah pada saat Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA), tahun 1969.

Isi dari perjanjian itu, disepakati bahwa Rakyat Papua Barat akan menentukan nasib mereka sendiri. Apakah ikut Indonesia atau Merdeka sebagai sebuah Bangsa.

Saat PEPERA dilaksanakan, aturannya adalah one man, one vote (satu orang, satu suara/hak memilih). Tetapi, kelicikan Indonesia sehingga memilih 1025 Orang dari 800.000 Jumlah penduduk Pribumi Papua Barat dan Non Papua Barat, untuk ikut dalam PEPERA (Sumber: P. J Drooglever, 2005).

1025 Orang dikarantinakan Indonesia selama dua Bulan. Pada masa karantina, mereka diancam; dibunuh, termasuk keluarga mereka, dan diteror. Jika mereka tidak memilih Indonesia.

Indonesia, saat PEPERA, mempersulit Wartawan, Diplomat Asing, bahkan Utusan khusus PBB. Sehingga, Wartawan, Diplomat Asing, Utusan khusus PBB, tidak menyaksikan saat PEPERA.

Dan Indonesia adalah pilihan dari 1025 Orang. Tetapi, pada prosesnya, PEPERA 100% rekayasa dan manipulasi demi merebut Tanah Papua Barat secara Paksa.

Fokus persoalan ini menjadi sorotan saat konferensi di London, Inggris. Dan dunia Internasional, Nasional, dan Daerah, telah mengetahui bahwa pada prosesnya, PEPERA 100% rekayasa dan manipulasi demi merebut Tanah Papua Barat secara Paksa.

Saat ini - beroperasinya perusahan-perusahan besar di Papua, seperti; PT. Freeport McMoran, Petrochina, Mife, dan lainnya. Tidak memperdayakan masyarakat sekitar sebagai pemilik tanah ulayat itu.

Manajemen perusahan-perusahan itu mendatangkan segalanya dari luar Papua. Dan menyingkirkan pemilik tanah ulayat itu.

Eksploitasi besar-besaran semakin menggurita, kerusakan lingkungan, illegal loging, dan penyerobotan tanah ulayat masyarakat adat sekitar terus digarap. Tanpa melirik masyarakat sekitar yang sampai saat ini masih bergantung pada lingkungan.

Tuntutan masyarakat atas perilaku ketidakmanusiawi dan tidak adil, dijawab dengan amunisi Militer Indonesia. Kaum intelektual yang mendukung tuntutan itu, dijadikan korban. Pasal Makar contohnya.

Stigma separatis pun dipasarkan Militer Indonesia agar Militer Indonesia mudah membelinya. Pelanggaran HAM pun terjadi.

Kehadiran perusahaan-perusahan besar memicu Pelanggaran HAM di Papua. Militer Indonesia adalah budak-budaknya.

Tuntutan-tuntutan masyarakat adat sekitar, sangat mengancam keberlangsungan perusahan-perusahan besar. Militer Indonesia sebagai alat dari perusahan untuk mematikan pergerakan tuntutan itu.

Pos-pos Militer pun terlihat seperti rumah-rumah pemukiman. Didirikan berdampingan dengan perusahan. Pantas saja, karena satu buah M 16 dapat menghasilkan 16 M. Apa lagi jenis senjata yang lain.

Pemogokan buruh PT. Freeport McMoran menelan, Satu orang ditembak, dada kiri hingga meninggal (10-10/2011). Dua orang ditembak peluruh karet, punggung hingga luka berat. Lebih dari dua orang luka senpi senjata, kepala hingga luka jahitan.

Hal serupa, dilakukan oleh Gabungan TNI-POLRI saat penutupan Kongres Rakyat Papua III (19-10/2011), (Sumber: Pasal Makar Untuk Korban, 2011. http://wayai-deto.blogspot.com/2011/10/pasal-makar-untuk-korban.html).

Indonesia semakin membuktikan watak rezim SBY-Boediono yang berpihak pada IMPERIALISME Amerika Serikat sebagai anti demokrasi dan anti terhadap HAM.



(Seruan Aksi, Pernyataan Sikap, Roy Karoba, AMP-Yogyakarta)

Maka, lahirlah pernyataan sikap SUP:
1. SBY-Boediono SEGERA Menyelesaikan Masalah Papua! Dan

2. Tutup Perusahan-perusahan Besar di Papua, seperti; PT. Freeport McMoran, Petrochina, dan MIFE.


(Video SUP)
Read more

0 SOLIDARITAS UNTUK PAPUA

(AMP, FNMP, FMN, IB, PEMBEBASAN, MAHARDIKA, IPR, DEMA UGM, MAHASWARA)


(Long march menuju kantor DPRP)



Sonny Dogopia – SUP, Senin (31-10/2011), Pukul 09:00 – 15:00 WIT , kembali turun jalan dan berakhir tanpa keributan.

SUP menuntut: Hentikan Pelanggaran HAM di Papua, Usut Tuntas Pelaku Pelanggaran HAM di Papua, SBY-Boediono Harus Bertanggung Jawab Atas Pelanggaran HAM di Papua, Tutup PT.Freeport McMoran, Stop Penambahan dan Pengiriman Militer ke Papua, Tarik Militer Organik dan Non Organik dari Tanah Papua, Stop Politisasi Kasus Penembakan di Papua oleh Pemerintah, PT. Freeport McMoran, dan TNI-POLRI, Berikan Ruang Demokrasi Seluas-luasnya bagi Rakyat Papua, Hentikan Perampasan Tanah-tanah Adat di Papua.



KRONOLOGIS
Massa aksi Star dari; Sekertariat Mahasiswa Papua, Tempat masing-masing, dan Sekertariat Organ-organ Pro-Rakyat.

Titik Kumpul di Transit Bus Pariwisata, Sebelum Stasiun Tunggu, Malioboro-Yogyakarta.
Long March ke Benteng, depan BNI, tepat di Perempatan.

Massa Aksi berhenti di Kantor DPR dan Gubernur untuk berorasi.

Orasi pun perwakilan dari masing-masing organ. Ada tambahan orasi lagi, yaitu Perwakilan dari Mahasiswa Papua.

Titik akhir di Benteng, depan BNI, tengah Perempatan.

Orasi demi orasi pun disuarakan.

Aksi Turun Jalan, SUP mengakhirinya dengan membacakan Pernyataan Sikap. Pernyataan Sikap dibacakan kordinator umum, Lekzy Degei, FNMP.

(saat Pembacaan pernyataan sikap)



LATAR BELAKANG
Beroperasinya perusahan-perusahan besar di Papua, seperti; PT. Freeport McMoran, Petrochina, Mife, dan lainnya. Tidak meperdayakan masyarakat sekitar sebagai pemilik tanah ulayat itu.

Manajemen perusahan-perusahan itu mendatangkan segalanya dari luar Papua. Dan menyingkirkan pemilik tanah ulayat itu.

Eksploitasi besar-besaran semakin menggurita, kerusakan lingkungan, illegal loging, dan penyerobotan tanah ulayat masyarakat adat sekitar terus digarap. Tanpa melirik masyarakat sekitar yang sampai saat ini masih bergantung pada linkungan.

Tuntutan masyarakat atas perilaku ketidakmanusiawi dan tidak adil, dijawab dengan amunisi Militer Indonesia. Kaum intelektual yang mendukung tuntutan itu, dijadikan korban. Pasal Makar contohnya.

Stigma separatis pun dipasarkan Militer Indonesia agar Militer Indonesia mudah membelinya. Pelanggaran HAM pun terjadi.

Kehadiran perusahaan-perusahan besar memicu Pelanggaran HAM di Papua. Militer Indonesia adalah budak-budaknya.

Tuntutan-tuntutan masyarakat adat sekitar, sangat mengancam keberlangsungan perusahan-perusahan besar. Militer Indonesia sebagai alat dari perusahan untuk mematikan pergerakan tuntutan itu.

Pos-pos Militer pun terlihat seperti rumah-rumah pemukiman. Didirikan berdampingan dengan perusahan. Pantas saja, karena satu buah M 16 dapat menghasilkan 16 M. Apa lagi jenis senjata yang lain.

Pemogokan buruh PT. Freeport McMoran, menelan Satu orang (ditembak), dada kiri hingga meninggal (10-10/2011). Dua orang ditembak peluruh karet, punggung hingga luka berat. Lebih dari dua orang luka senpi senjata, kepala hingga luka jahitan.

Hal serupa, dilakukan oleh Gabungan TNI-POLRI saat penutupan Kongres Rakyat Papua III (19-10/2011), (baca: Pasal Makar Untuk Korban), (Sumber:http://wayai-deto.blogspot.com/2011/10/pasal-makar-untuk-korban.html).

Indonesia semakin membuktikan watak rezim SBY-Boediono yang berpihak pada IMPERIALISME Amerika Serikat sebagai anti demokrasi dan anti terhadap HAM.

Maka, lahirlah pernyataan sikap SUP:
1. Hentikan Pelanggaran HAM di Papua,

2. Usut Tuntas Pelaku Pelanggaran HAM di Papua,

3. SBY-Boediono Harus Bertanggung Jawab Atas Pelanggaran HAM di Papua,

4. Tutup PT.Freeport McMoran, Stop Penambahan dan Pengiriman Militer ke Papua,

5. Tarik Militer Organik dan Non Organik dari Tanah Papua,

6. Stop Politisasi Kasus Penembakan di Papua oleh Pemerintah, PT. Freeport McMoran, dan TNI-POLRI,

7. Berikan Ruang Demokrasi Seluas-luasnya bagi Rakyat Papua, dan

8. Hentikan Perampasan Tanah-tanah Adat di Papua.

(saat setelah di benteng)



(Video SUP)
Read more

1 AKSI DEMONTRASI SOLIDARITAS UNTUK PAPUA, "MEMPERINGATI MATINYA HAM DI PAPUA."

SOLIDARITAS UNTUK PAPUA (SUP)

(IPR-Y, FMN, IBY, AMP, GANNJA)


Rabu (19/10-11) Pukul 19:00 WJ di Bundaran UGM, dimulainya Aksi Solidaritas Untuk Papua mengenang “Matinya HAM di Tanah Papua pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Dilanjutkan dengan duka atas beberapa masyarakat sipil dan Karyawan PT. Freeport McMoran yang disambut oleh amunisi dari pelatuk POLRI.”

Foto saat mulai, depan Bundaran UGM

LATAR BELAKANG
Penerapan politik upah murah yang dijalankan oleh rezim SBY-Boediono dapat kita lihat ketika ribuan buruh PT. Freeport Indonesia yang melakukan mogok kerja untuk menuntut adanya perbaikan upah dan kesejahteraan buruh PT. Freeport Indonesia. Aksi mogok kerja hampir 8000 buruh PT. Freeport yang sudah berlangsung sejak 15 September hingga 15 Oktober. Gaji buruh PT. Freeport Indonesia merupakan terendah jika dibandingkan dengan PT. Freeport di negara-negara lainnya.

Pada tahun 2006, PT. Freeport McMoran membayar pekerja di Amerika Utara sebesar $ 10,70 per jam, di South Amerika sebesar $ 10,10 per jam. Tetapi, d Indonesia itu hanya $ 0,98 per jam. Pada tahun 2010, pembayaran upah telah mencapai rata-rata $ 66,43 per jam. Sedangkan, di Indonesia itu hanya $ 4,42-$ 7,356 per jam. (berbagai sumber)

Senin (10/10-11) kemarin, buruh dan masyarakat sekitar PT. Freeport yang melakukan aksi mogok kerja dan melakukan protes kepada pihak management PT. Freeport McMoran yang melakukan Hiring of the employees (mempekerjakan karyawan) baru dari luar daerah untuk menggantikan buruh yang sedang melakukan pemogokan. PT. Freeport McMoran hanya memikirkan nasib Perusahan, nasib kantongnya, dan nasib kinerja terhadap Negara-negara adhi kuasa lainnya, di saat buruh sedang diberlakukan tidak adil.

Saat pemogokkan berlangsung, karyawan beserta masyarat sekitar bergiliran menyampaikan pendapat, di saat itulah HAM di Papua mati total. Karena, karyawan beserta masyarat sekitar di sambut oleh amunisi dari pelatuk POLRI. Sangat disayangkan negeri Indonesia ini, negeri yang berbackground hukum ini. Dan sampai saat ini, tidak ada penindak lanjutan dari kasus HAM berat ini. Karena, melalui via-telpon untuk sementara seorang ditembak mati pada bagian dada, dua orang ditembak dengan peluru karet dan luka berat, dan beberapa orang dipukul sampai mengeluarkan darah yang membanjiri tubuh.

Kebebasan Rakyat Papua untuk menyampaikan pendapat dijamin oleh Preamble (mukadimah) UU 1945. UU No. 09 Tahun 1998, Deklarasi universal Hak-hak asasi manusia dan deklarasi hak-hak-hak masyarakat adat tahun 2007. Namun, kebebasan ini disambut oleh Amunisi dari Pelatuknya POLRI. Sudah banyak korban di atas derita Rakyat Papua khususnya bagi karyawan PT. Freeport Indonesia dan masyarakat sekitar.

Namun, pemerintah reaksioner pimpinan SBY-Boediono melakukan pembusukan atas kasus penembakan dengan menyalahkan buruh PT. Freeport Indonesia yang telah membakar satu unit mobil dan ban duntruck. Padahal, peristiwa pelanggaran HAM terhadap buruh PT. Freeport Indonesia lebih dahulu terjadi sebelum peristiwa pembakaran mobil dan ban duntruck.

Dari latar belakang ini, maka kami Solidaritas Untuk Papua (SUP) menyatakan sikap, “mengecam sikap abai Pemerintah yang melakukan pembiaran atas kasus yang dialami oleh Buruh Freeport dan Masyarakat Papua, mengutuk tindak kekerasan yang dilakukan oleh POLRI yang mengakibatkan meninggalnya Buruh Freeport dan korban luka lainnya. Kami menyatakan secara penuh atas perjuangan Buruh Freeport dan Masyarakat Papua.”

Untuk itu, pernyataan sikap kami (SUP):
1.Menghentikan Kekerasan Terhadap Rakyat Papua!
2.Usut Tuntas Pelaku Pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM)!
3.Hentikan Diskriminasi dalam Pengupahan PT. Freeport!
4.SBY-Boediono HARUS Bertanggung Jawab Terhadap Kasus Penembakan di Papua!
5.Hentikan Perampasan Tanah di Papua untuk Tambang!


KRONOLOGIS SINGKAT
Rabu (19/10-11) Pukul 19:00 WJ di Bundaran UGM, dimulainya Aksi 1000 lilin. Yang mana menandakan bahwa matinya HAM dan duka atas beberapa masyarakat sipil dan Karyawan PT. Freeport McMoran yang disambut oleh amunisi dari pelatuk POLRI.


Di mulai dengan penyalahan Obor, dilanjuti Orasi dari berbagai perwakilan organ-organ pro rakyat dan perwakilan dari tujuh suku yang ada di Pegunungan tengah. Kemudian Korlap arahkan massa masih dalam satu komando untuk membentuk lingkaran besar. Masih dalam lingkaran itu, massa mengisinya dengan Nyanyian kaum tertindas, Puisi, Orasi, dan Tarian ala Puncak Jaya/Papua. Setelah berlangsung, massa menyalahkan 1000 lilin dan membentuk lingkaran menyesuaikan lingkaran UGM itu.

Foto saat pembacaan tuntutan pernyataan sikap, oleh Roy Karoba selaku Ketua AMP-Yogyakarta

Massa dari berbagai perwakilan; tujuh suku dan Organ-organ pro rakyat menaiki panggung bundaran UGM dan membacakan pernyataan sikap yang dipandu oleh ketua AMP-Yogyakarta, Roy Karoba, “mengecam sikap abai Pemerintah yang melakukan pembiaran atas kasus yang dialami oleh Buruh Freeport dan Masyarakat Papua, mengutuk tindak kekerasan yang dilakukan oleh POLRI yang mengakibatkan meninggalnya Buruh Freeport dan korban luka lainnya. Kami menyatakan secara penuh atas perjuangan Buruh Freeport dan Masyarakat Papua.
Untuk itu, pernyataan sikap kami (SUP):
1.Menghentikan Kekerasan Terhadap Rakyat Papua!
2.Usut Tuntas Pelaku Pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM)!
3.Hentikan Diskriminasi dalam Pengupahan PT. Freeport!
4.SBY-Boediono HARUS Bertanggung Jawab Terhadap Kasus Penembakan di Papua!
5.Hentikan Perampasan Tanah di Papua untuk Tambang!”

Dan dilanjuti dengan penandatanganan. Untuk penandatanganannya, ada tiga spanduk. Dua spanduk untuk dikirim ke PT. Freeport sebagai tuntutan Mahasiswa di Se-Jawa dan Bali, khususnya di Yogyakarta agar segera menyikapi pernyataan sikap yang sudah dibacakan/ditulis dalam Latar Belakang di atas, di Paragraf akhir. Dan satu spanduk untuk pegangan bagi Mahasiswa Papua, Organ-organ Pro-Rakyat.

Setelah penandatangan, maka selesailah rangkaian Aksi SUP, 1000 lilin dengan sukses. Massa pun meninggalkan tempat dan pulang ke tempat masing-masing. (Waiyai Dogopia)


Foto saat Orasi


Foto saat nyanyian rakyat


Foto saat Puisi tangisan


Foto saat tarian ala Puncak Jaya/Papua


Foto saat berdiri menyesuaikan bundaran UGM


Spanduk berslogan, "STOP PELANGGARAN HAM DI PAPUA dan HENTIKAN KEKERASAN DI PAPUA." Ini akan dikirim ke PT. Freeport setelah dicoreti tandatangan
Read more

2 HUT Kemerdekaan ke-49 Papua Barat di Yogyakarta

Waiyai DETO*)

















Rabu, Yogyakarta (01/12-10) Pukul 07:00 WI, Hari Ulang Tahun (HUT) kemerdekaan ke-49 Papua Barat terselenggarah dengan sukses, sesuai setingan.
Ada pun susunan acaranya: PEMBUKAAN (Doa), MIMBAR BEBAS (Orasi Politik, Puisi, Menyanyi, Tari-tarian, Mural/Kreasi, Mob, Drama/Teatrikal, dan 1000 tanda tangan
untuk Papua Merdeka), REFLEKSI/IBADAH (Refleksi dan Ibadah), PEMUTARAN FILM (Sejarah Papua Barat, Penyiksaan di Puncak Jaya, Penyiksaan di Serui, Perang Kelompok di Kabupaten Mimika/kwamki Lama), dan PENUTUP (Doa).

Surat pemberitahuan berupa Undangan telah terbagi disetiap Paguyuban. Namun, jumlah massa yang hadir tidak sesuai undangan yang telah terbagi.

Ini di karenakan, diwaktu yang sama sebagian besar massa menghadiri undangan terbuka adanya Beda Buku, "DEMOKRASI KESUKUAN: Gagasan Sistem Pemerintah Masyarakat Adat di Era Globalisasi, SUATU PENGANTAR. Oleh: Sem Karoba, Dkk."

Berikut ini adalah kutipan dari Undangan Beda Buku tersebut;
" Anda menghargai, bangsa serta jati diri dan martabat Anda sebagai ORANG Jawa, Papua, Betawi, Bali, Dayak, Sunda, Badui,.....? :

1. Anda bangaa dan menghargai jati diri dan martabat Anda sebagai orang Jawa, Papua, Betawi, Bali, Sunda, Minang, Dayak, Bugis,...?

2. Sadarkah Anda bahwa identitas dan martabat Anda itu sudah lama, secara sistematis dan struktural dikikis habis atas nama "Isme-Isme" Modern...?

3. Apa yang dapat kita lakukan untuk tetap menjadi orang Batak, Minang, Betawi, Sunda, Jawa, Malaya, Bali, Bugis, Melanesia di dalam negara-bangsa Modern yang majemuk dengan identitas dan martabat Suku masing-masing...?

4. Ini tawaran gagasan dari masyarakat Adat Papua. Datang dan berbagi ilmu, penghetahuan, pengalaman, dan cita-cita, bersama kami sebelum identitas dan martabat kami menjadi sejarah.

Maka dari itu, massa yang hadir saat HUT Kemerdekaan ke-49 Papua Barat tidak sesuai undangan yang terbagi. Dan di waktu yang sama, Semua umat Papua Barat merayakan HUT Kemerdekaan Papua Barat pada tanggal 1 desember.

Hal ini, didasarkan atas pendeklarasian Kemerdekaan Papua Barat pada tanggal 1 Desember 1961. Walaupun, diwaktu yang sama umat Indonesia merayakan hari HIV/AIDS sedunia.


Bahan Referensi:

http://fhileprogeljober.blogspot.com/

http://www.facebook.com/notes/john-pakage/berpakaian-hitam-untuk-mengenangmu/145534518830439

http://www.tabloidjubi.com/index.php/daily-news/jayapura/1220-ptonpb-deklarasikan-kemerdekaan-papua-barat

http://mhslanijayatiom.blogspot.com/2009_07_19_archive.html

http://goomabipainews.multiply.com/journal/item/72

http://f3nn.wordpress.com/2009/03/10/kemerdekaan-papua-harga-mati-otsus-di-kembalikan-ke-nkri/

http://www.tabloidjubi.com/index.php/daily-news/jayapura/9950-1-desember-mahasiswa-uncen-turun-jalan
Read more

2 AKSI DEMONTRASI (DEMO) DAMAI: “SOLIDARITAS UNTUK PAPUA” (IPMA-PAPUA D.I.Y, AMP, GANJA, FMN, LBH, PMKRI, PEMBEBASAN-PPRM, KPRM-PRD)


Waiyai Deto ~~ Senin, (21/06-10) Pukul 09:00 WI Aksi DEMO Damai berlangsung yang titik kumpulnya di Rumah Adat (Asrama Papua), Kamasan 01 Jl. Kesumanegara 119 Yogyakarta. Dan berakhir dengan aman terkendali Pukul 15:00 WI.


A. Kronologi DEMO Damai, “Solidaritas Untuk Papua (SUP)” (Secara Garis Besar)

Titik Kumpul massa aksi, di Arsama Papua (Rumah Adat) D.I.Y yang akan berkumpul di Tugu Yogyakarta (Jogja). Massa pun menggunakan Bis, Pick up, dan kendaraan roda dua (Sepeda Motor) bertujuan di Tugu Jogja. Semua massa aksi turun dan berkumpul dengan satu ikatan tali komando yang didahului Pick up serta disusun dengan Spanduk maupun papan berupa pemberitahuan.


Massa aksi berjalan dari Tugu Jogja menuju Kantor Pos Malioboro (Depan Bank BNI) dengan melontarkan kata yang benar-benar terjadi dan sekaligus memberi pemahaman terhadap warga/masyarakat di sekitarnya. Sepanjang jalan pun selebaran beredar ke semua kalangan / elemen masyarakat yang ada. Orasi Politik pun disampaikan oleh berbagai Organisasi/Kelompok seperti: IPMA-PAPUA D.I.Y, AMP, GANJA, FMN, LBH, PMKRI, PEMBEBASAN-PPRM, dan KPRM-PRD.


Aksi DEMO Damai, “Solidaritas Untuk Papua (SUP)” pun selesai dan massa aksi kembali ke tempat masing-masing menggunakan Bis, Pick up, dan Sepeda Motor.


1. Pembahasan Dari Aksi DEMO Damai

Dalam Aksi DEMO Damai, “Solidaritas Untuk Papua (SUP)” tersebut, kejadian yang terjadi di Puncak Jaya dipertunjukan dalam sebuah Drama Singkat. Yang mana, Bapak Bupati Puncak Jaya (Lukas Enembe / Anak Emas dari Susilo Bambang Yudhoyono) bekerja sama dengan TNI/POLRI (MILITERISME RI) untuk membunuh/menembak seorang Pendeta (Kindeman Gire) dan anak mantu dari Pendeta Yason Wonda, Wakil Ketua Klasis GIDI Mulia (Enditi Tabuni). (Sumber: Via Telpon keluarga di Puncak Jaya). Drama singkat pun usai.


Kasus kekerasan Militer ini terjadi bersamaan (pada Bulan yang sama, Maret 2010) terhadap massa Rakyat Papua; Garundinggen Morib (45 Tahun), Ijokone Tabuni (35 Tahun), Etiles Tabuni(24 Tahun), Meiles Wonda (30 Tahun), Jigunggup Tabuni (46 Tahun), Nekiler Tabuni (25 Tahun), Biru Tabuni (51 Tahun/Sedang Sakit Berat), Tiraik Morib (29 Tahun), Yakiler Wonda (34 Tahun), Tekius Wonda (20 Tahun), Neriton Wonda (19 Tahun), Yuli Wonda (23 Tahun), dan Kotoran Tabuni (42 Tahun). (Sumber: Via Telpon keluarga di Puncak Jaya). Ke 13 Korban dari Kasus kekerasan Militer ini, harus menahan derita yang dipastikan tidak bisa menahaan derita yang cukup lama.


Hingga saat ini belum terdata secara pasti jumlah korban dari kasus kekerasan Militer yang masih berlangsung ini. Karena, Media Cetak maupun Media Elektronik diperketat postingannya Kasus Kekerasan Militer ini. Data yang terdata juga itu dari keluarga yang ada di Tanah Pembantaian (yang terus mengalirkan darah, mengalirkan air mata, dan ditutupnya napas, “mata”, sehingga keinginan dari hak-hak yang ada TERBATAL) tidak akan kita dapati di setiap MEDIA yang ada.


Rezim Fasis Boneka Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) antek Imperialis Amerika pada awal masa jabatannya di periode pertama pernah menyampaikan, “...akan menyelesaikan masalah Papua secara ‘mendasar, menyeluruh, dan bermartabat’.” Janji SBY itu, ternyata menjauh setelah periode ke dua SBY menjabat sebagai orang nomor satu di RI ini. Jika kita menyimak apa yang sedang terjadi di Papua; Kelly Kwalik (Timika) ditembak, Tadeus Yogi (Paniai/Enaro Tali) dikejar hingga hilang di Hutan, didiamkan dengan “Uang”, Trauma, dan lain-lain (Daerah Pesisir Pante), dikabarkan akan menangani ketertinggalan (Mamberamo Raya), dan Goliat Tabuni (Puncak Jaya) yang sampe saat ini masih menjadi manusia pemburuan dari MILITERISME RI.

Goliat Tabuni (Puncak Jaya) yang sampe saat ini masih menjadi manusia pemburuan dari MILITERISME RI. Dan merupakan daerah yang memang tidak bisa ditawarkan sehingga menjadi Daerah Operasi Militer (DOM) / Kebijakan Bumi Hangus di Distrik Tingginambut-Papua. Kesepakatan pun disahkan antara Pemerintah Daerah Tingkat II Puncak Jaya, PANGDAM XVII TRIKORA, dan POLDA Papua pada Bulan Mei 2010. (Sumber: Cendrawasih Post, 18 Mei 2010).


Dalam kesepakatan tersebut, meminta agar semua warga masyarakat setempat, pemimpin Gereja, Perempuan, Pemuda, Anak-anak, pemimpin Tradisional, dan Kepala Desa segera keluar dari wilayah Distrik Tingginambut paling lambat 27-28 Juni 2010. Nah, ini membuktikan bahwa semakin fasis-nya rezim penguasa hari ini yang selalu disembunyikan dibalik slogan DEMOKRASI dan penegakan HAK ASASI MANUSIA (HAM).


2. Di Balik DOM, Puncak Jaya-Papua

Apa sebenarnya di balik DOM ini? Ternyata, Lukas Enembe (Bupati Puncak Jaya) sebelumnya telah mensosialisasikan PEMEKARAN PROPINSI TENGAH lewat Media Elektronik (TV Channel TVONE). Dan ini disepakati oleh 10 Bupati yang ada di Daerah Pegunungan.


Kelly Kwalik (Timika) ditembak, Tadeus Yogi (Paniai/Enaro Tali) dikejar hingga hilang di Hutan, didiamkan dengan “Uang”, Trauma, dan lain-lain (Daerah Pesisir Pante), dikabarkan akan menangani ketertinggalan (Mamberamo Raya), dan Goliat Tabuni (Puncak Jaya) yang sampe saat ini masih menjadi manusia pemburuan dari MILITERISME RI. Ini semua menjadi PEMBURUAN agar situasi di Papua enak dimasuki. MILITERISME difungsikan dengan alas an KEAMANAN. Namun, sebenarrnya mencari “Uang” saku dan Kenaikan Pangkat sehingga amunisi pun dilepaskan secara tidak manusiawi alias binatang.


B. Pernyataan Sikap Dari Aksi DEMO Damai, “Solidaritas Untuk Papua (SUP)”


1. Cabut Status Daerah Operasi Militer (DOM) dan Kebijakan Bumi Hangus dari Tingginambut, Puncak Jaya-Papua paling lambat 26 Juni 2010,


2. KOMNAS HAM segera menyelidiki Kasus Kekerasan Militer di Tingginambut, Puncak Jaya-Papua,


3. Hentikan dan Tarik Pengiriman Militer Organik dan Non-Organik ke Puncak Jaya dan Seluruh Papua, dan


4. Hentikan Intimidasi, Kekerasan Militer di Puncak Jaya, dan Seluruh Papua.


Read more

0 AKSI DEMONTRASI (DEMO) DAMAI: “SOLIDARITAS UNTUK PAPUA” (IPMA-PAPUA D.I.Y, AMP, GANJA, FMN, LBH, PMKRI, PEMBEBASAN-PPRM, KPRM-PRD)





Waiyai Deto ~~ Senin, (21/06-10) Pukul 09:00 WI Aksi DEMO Damai berlangsung yang titik kumpulnya di Rumah Adat (Asrama Papua), Kamasan 01 Jl. Kesumanegara 119 Yogyakarta. Dan berakhir dengan aman terkendali Pukul 15:00 WI. (sumber Foto: Camera saat aksi sedang berlangsung).

A. Kronologi DEMO Damai, “Solidaritas Untuk Papua (SUP)” (Secara Garis Besar)

Titik Kumpul massa aksi, di Arsama Papua (Rumah Adat) D.I.Y yang akan berkumpul di Tugu Yogyakarta (Jogja). Massa pun menggunakan Bis, Pick up, dan kendaraan roda dua (Sepeda Motor) bertujuan di Tugu Jogja. Semua massa aksi turun dan berkumpul dengan satu ikatan tali komando yang didahului Pick up serta disusun dengan Spanduk maupun papan berupa pemberitahuan.

Massa aksi berjalan dari Tugu Jogja menuju Kantor Pos Malioboro (Depan Bank BNI) dengan melontarkan kata yang benar-benar terjadi dan sekaligus memberi pemahaman terhadap warga/masyarakat di sekitarnya. Sepanjang jalan pun selebaran beredar ke semua kalangan / elemen masyarakat yang ada. Orasi Politik pun disampaikan oleh berbagai Organisasi/Kelompok seperti: IPMA-PAPUA D.I.Y, AMP, GANJA, FMN, LBH, PMKRI, PEMBEBASAN-PPRM, dan KPRM-PRD.

Aksi DEMO Damai, “Solidaritas Untuk Papua (SUP)” pun selesai dan massa aksi kembali ke tempat masing-masing menggunakan Bis, Pick up, dan Sepeda Motor.

1. Pembahasan Dari Aksi DEMO Damai

Dalam Aksi DEMO Damai, “Solidaritas Untuk Papua (SUP)” tersebut, kejadian yang terjadi di Puncak Jaya dipertunjukan dalam sebuah Drama Singkat. Yang mana, Bapak Bupati Puncak Jaya (Lukas Enembe / Anak Emas dari Susilo Bambang Yudhoyono) bekerja sama dengan TNI/POLRI (MILITERISME RI) untuk membunuh/menembak seorang Pendeta (Kindeman Gire) dan anak mantu dari Pendeta Yason Wonda, Wakil Ketua Klasis GIDI Mulia (Enditi Tabuni). (Sumber: Via Telpon keluarga di Puncak Jaya). Drama singkat pun usai.

Kasus kekerasan Militer ini terjadi bersamaan (pada Bulan yang sama, Maret 2010) terhadap massa Rakyat Papua; Garundinggen Morib (45 Tahun), Ijokone Tabuni (35 Tahun), Etiles Tabuni(24 Tahun), Meiles Wonda (30 Tahun), Jigunggup Tabuni (46 Tahun), Nekiler Tabuni (25 Tahun), Biru Tabuni (51 Tahun/Sedang Sakit Berat), Tiraik Morib (29 Tahun), Yakiler Wonda (34 Tahun), Tekius Wonda (20 Tahun), Neriton Wonda (19 Tahun), Yuli Wonda (23 Tahun), dan Kotoran Tabuni (42 Tahun). (Sumber: Via Telpon keluarga di Puncak Jaya). Ke 13 Korban dari Kasus kekerasan Militer ini, harus menahan derita yang dipastikan tidak bisa menahaan derita yang cukup lama.

Hingga saat ini belum terdata secara pasti jumlah korban dari kasus kekerasan Militer yang masih berlangsung ini. Karena, Media Cetak maupun Media Elektronik diperketat postingannya Kasus Kekerasan Militer ini. Data yang terdata juga itu dari keluarga yang ada di Tanah Pembantaian (yang terus mengalirkan darah, mengalirkan air mata, dan ditutupnya napas, “mata”, sehingga keinginan dari hak-hak yang ada TERBATAL) tidak akan kita dapati di setiap MEDIA yang ada.

Rezim Fasis Boneka Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) antek Imperialis Amerika pada awal masa jabatannya di periode pertama pernah menyampaikan, “...akan menyelesaikan masalah Papua secara ‘mendasar, menyeluruh, dan bermartabat’.” Janji SBY itu, ternyata menjauh setelah periode ke dua SBY menjabat sebagai orang nomor satu di RI ini. Jika kita menyimak apa yang sedang terjadi di Papua; Kelly Kwalik (Timika) ditembak, Tadeus Yogi (Paniai/Enaro Tali) dikejar hingga hilang di Hutan, didiamkan dengan “Uang”, Trauma, dan lain-lain (Daerah Pesisir Pante), dikabarkan akan menangani ketertinggalan (Mamberamo Raya), dan Goliat Tabuni (Puncak Jaya) yang sampe saat ini masih menjadi manusia pemburuan dari MILITERISME RI.

Goliat Tabuni (Puncak Jaya) yang sampe saat ini masih menjadi manusia pemburuan dari MILITERISME RI. Dan merupakan daerah yang memang tidak bisa ditawarkan sehingga menjadi Daerah Operasi Militer (DOM) / Kebijakan Bumi Hangus di Distrik Tingginambut-Papua. Kesepakatan pun disahkan antara Pemerintah Daerah Tingkat II Puncak Jaya, PANGDAM XVII TRIKORA, dan POLDA Papua pada Bulan Mei 2010. (Sumber: Cendrawasih Post, 18 Mei 2010).

Dalam kesepakatan tersebut, meminta agar semua warga masyarakat setempat, pemimpin Gereja, Perempuan, Pemuda, Anak-anak, pemimpin Tradisional, dan Kepala Desa segera keluar dari wilayah Distrik Tingginambut paling lambat 27-28 Juni 2010. Nah, ini membuktikan bahwa semakin fasis-nya rezim penguasa hari ini yang selalu disembunyikan dibalik slogan DEMOKRASI dan penegakan HAK ASASI MANUSIA (HAM).

2. Di Balik DOM, Puncak Jaya-Papua

Apa sebenarnya di balik DOM ini? Ternyata, Lukas Enembe (Bupati Puncak Jaya) sebelumnya telah mensosialisasikan PEMEKARAN PROPINSI TENGAH lewat Media Elektronik (TV Channel TVONE). Dan ini disepakati oleh 10 Bupati yang ada di Daerah Pegunungan.

Kelly Kwalik (Timika) ditembak, Tadeus Yogi (Paniai/Enaro Tali) dikejar hingga hilang di Hutan, didiamkan dengan “Uang”, Trauma, dan lain-lain (Daerah Pesisir Pante), dikabarkan akan menangani ketertinggalan (Mamberamo Raya), dan Goliat Tabuni (Puncak Jaya) yang sampe saat ini masih menjadi manusia pemburuan dari MILITERISME RI. Ini semua menjadi PEMBURUAN agar situasi di Papua enak dimasuki. MILITERISME difungsikan dengan alas an KEAMANAN. Namun, sebenarrnya mencari “Uang” saku dan Kenaikan Pangkat sehingga amunisi pun dilepaskan secara tidak manusiawi alias binatang.

B. Pernyataan Sikap Dari Aksi DEMO Damai, “Solidaritas Untuk Papua (SUP)”

1. Cabut Status Daerah Operasi Militer (DOM) dan Kebijakan Bumi Hangus dari Tingginambut, Puncak Jaya-Papua paling lambat 26 Juni 2010,

2. KOMNAS HAM segera menyelidiki Kasus Kekerasan Militer di Tingginambut, Puncak Jaya-Papua,

3. Hentikan dan Tarik Pengiriman Militer Organik dan Non-Organik ke Puncak Jaya dan Seluruh Papua, dan

4. Hentikan Intimidasi, Kekerasan Militer di Puncak Jaya, dan Seluruh Papua.
Read more

Delete this element to display blogger navbar

 
Powered by Blogger